Pengalengan: Mengenang Bosscha Di Kebun Teh Malabar
Rabu, 20 Februari 2008 | 12:58 WIB
BEKAS kediaman Arsitek itu kini dijadikan penginapan. Tapi di Perkebun Teh Malabar Anda juga bisa memelihara kebugaran tubuh dengan berjalan kaki menyusur kebun. Ada pula pemandian air panas untuk menghilangkan rasa lelah.
Selalu ada pertanyaan yang menyelinap ke dalam benak saat mengagumi keindahan suatu tempat. Sambil berjalan melatih kekuatan otot kaki menyusuri sejuknya udara perkebunan teh Gunung Malabar, pertanyaan itu bisa dimulai dengan siapa yang menata perbukitan di kawasan Pengalengan, Jawa Barat, sekitar 40 kilometer selatan kota Bandung itu hingga memunculkan suatu pemandangan yang sedemikian asri, penuh pesona dan daya pikat?
Pertanyaan filosofis semacam itu memang mudah dijawab. Keindahan Gunung Malabar sudah ada sejak sedia kala. Tapi soal siapa yang mempopulerkan keindahan kawasan itu hingga tak kurang dari pembuat film anak-anak, Petualangan Sherina, memilih kawasan itu untuk pengambilan gambar adalah urusan lain.
Orang-orang yang bukan penduduk asli kawasan Gunung Malabar mulai mencium potensi keindahan kawasan itu sejak sebelum tahun 1890. Ketika itu orang-orang Belanda di Bandung mulai berdatangan ke Pengalengan baik untuk beristirahat, mengerjakan proyek irigasi maupun untuk berdagang. Saat perkebunan teh Malabar didirikan pada tahun 1896, kawasan itu pun jadi makin dikenal oleh masyarakat luas.
Penginapan BosschaTak jarang orang-orang Bandung yang berdatangan ke kawasan Malabar kemudian juga melakukan aktivitas rekreatif. KAR Bosscha, yang ditunjuk sebagai arsitek dan pengelola kebun teh Malabar rupanya sangat betah tinggal di situ. Tokoh yang dikenal dengan stasiun pengamatan bintang di Lembang, gedung Asia Afrika Bandung, dan berdirinya ITB itu bahkan merasa perlu mendirikan rumah sendiri. Saat meninggal pada 26 November 1928 pun ia minta dimakamkan di antara rerimbunan semak pohon teh di perkebunan teh Malabar.
Kini oleh PTPN VIII kediaman Meneer Bosscha itu telah diperbaraui lagi dan ruangannya ditambah hingga menjadi 11 kamar. Bila Anda ingin merasakan nikmatnya teh hangat dari Perkebunan Teh Malabar Anda bisa menginap di penginapan tersebut. Selain jauh dari polusi dan kebisingan, Anda pun bisa leluasa melakukan aneka kegiatan fisik, berjalan kaki menyusur kebun teh, mendaki Gunung Papandayan, main perahu di situ Cileunca, dan lain sebagainya.
Sekedar informasi harga bermalam di penginapan PTPN VIII relatif murah. Dengan harga Rp 220.000 per malam pada hari biasa (dan Rp 275.000 pada akhir pekan) Anda sudah mendapatkan sarapan serta jalan-jalan di kebun teh. Tapi bagi yang ingin membawa keluarga besar Anda juga bisa menyewa rumah Melati II dengan harga Rp 330.000 pada hari biasa (dan Rp 385.000 pada akhir pekan) yang terdiri dari 4 kamar, dapur serta kamar mandi yang dilengkapi air panas.
Air Panas Cibolang
Perkebunan teh Malabar dengan latar belakang Gunung Wayang dan Gunung Windu berada pada ketinggian 1500 mdpl dengan suhu sekitar 18-23 C. Di areal perkebunan seluas 2 Ha itu terdapat pemandian air panas Cibolang. Nama Cibolang sendiri berasal dari nama sebuah desa setempat. Dan kini lekat dengan tempat wisata di sekeliling perkebunan teh Malabar.
Pemandian ini resmi dibuka untuk umum pada tahun 1985. Dulu di tempat itu hanya tersedia 2 buah kolam renang untuk anak-anak dan dewasa. Kini sudah ditambah pemandian bak tertutup sebanyak 6 pintu, musholla, shelter serta restoran yang menjajakan berbagai menu masakan Sunda.
Sebelum Anda memasuki lokasi Cibolang, pemandang yang nampak adalah pucuk-pucuk hijau daun teh yang siap dipetik. Bahkan Anda pun bisa melakukan teawalk dulu di areal perkebunan tersebut. Baru setelah lelah mengitari kebun teh Anda mandi sepuas mungkin. Airnya yang hangat dijamin akan menambah kenyamanan Anda membersihkan diri.
Air yang hangat itu merupakan aliran air yang berasal dari kawah Gunung Windu. Sedikit menapaki punggung Gunung Wayang Anda juga akan mendapati sebuah kawah. Namanya Kawah Burung. Kawah Burung berasal dari bahasa Sunda yang berarti kawah teujadi (tidak jadi). Uniknya kawah itu bukan hasil letusan gunung berapi melainkan terbentuk begitu saja. Kawahnya juga mengepulkan asap putih dari balik batu cadas. Biasanya orang yang berkunjung ke air panas Cibolang ini hanya sekedar rekreasi, tapi ada juga yang mencoba mencari kesembuhan.
"Lewat air panas Cibolang ada juga yang sembuh penyakit gata-gatal, kulit dan rematik. Paling setelah mereka mandi di sini 3 kali bisa sembuh, tapi itu juga bergantung dari jenis penyakit yang diidapnya" kata Aidadi (43), mantan petugas perkebunan the Malabar yang kini bertugas di kantor pusat PTPN VIII. (Senior/Hendra Priantono)
Alamat Kantor PTPN VIII Jawa Barat
Jl. Sindangsirna No. 4 Bandung
Telp. 022-2038966